CERMINAN DAN NILAI ASMAUL HUSNA
A. Maha
Pemaaf (العفو, al-"Afwwu)
1. Pengertian
Nama
al-‘Afuww merupakan nama ke-83 dari 99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata al- ‘Afuww,
terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf ‘ain, fa`, dan wauw.
Maknanya yaitu meninggalkan sesuatu dan memintanya. Dari sini lahir
kata ‘afwu yang berarti meninggalkan sanksi terhadap yang bersalah
(memaafkan). Dalam beberapa kamus kata ‘afwu berarti menghapus, membinasakan
dan mencabut akar sesuatu. Kata al-‘Afuww berarti Allah Maha memafkan kesalahan
hambanya. Pemaafan Allah tidak hanya tertuju pada mereka yang bersalah secara
tidak sengaja atau melakukan kesalahan yang tidak diketahui, melainkan pemaafan
secara universal diberikan kepada semua hamba-Nya bahkan sebelum mereka meminta
maaf. Allah Swt. berfirman :
إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَلَّوۡاْ مِنكُمۡ
يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِ إِنَّمَا ٱسۡتَزَلَّهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِبَعۡضِ مَا
كَسَبُواْۖ وَلَقَدۡ عَفَا ٱللَّهُ عَنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٞ ١٥٥
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang
berpaling di antara kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua
pasukan itu, sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian
kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat (pada masa lampau), tetapi Allah
benar-benar telah memaafkan mereka. Sungguh, Allah maha Pengampun, Maha
Penyantun” (QS. Ali ‘Imrān [3]: 155)
Dalam al-Qur`an kata ‘afwu ditemukan ada
35 kali dengan berbagai bentuk dan makna. Dan kata ‘afwu ditemukan tiga kali
yang merujuk kepada Allah.
2.
Teladan dari nama baik Al-‘Afuww
a.
Meyakini bahwa Allah memaafkan kesalahan
hambanya Sebagai umat Islam, kita harus meyakini bahwa kesalahan-kesalahan kita
akan dimaafkan oleh Allah Swt. Tidak ada kesalahan yang tidak dimaafkan oleh
Allah selama kita mau bertaubat. Allah Swt. Berfirman :
وَنَضَعُ ٱلۡمَوَٰزِينَ ٱلۡقِسۡطَ لِيَوۡمِ
ٱلۡقِيَٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡٔٗاۖ وَإِن كَانَ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ
خَرۡدَلٍ أَتَيۡنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ ٤٧
Artinya : “Dan Kami akan memasang
timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau
sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami
mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan” (QS.
al-Anbiyā` [21]: 47)
Oleh karenanya, seyogyanya kita memahami
bahwa kesalahan yang pernah dilakukan pasti telah dimaafkan oleh Allah apalagi
jika disertai dengan pertaubatan atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Melakukan taubat adalah menyadari kesalahan hamba, meminta ampun atas kesalahan
tersebut, dan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan serupa kembali.
b.
Perintah untuk menjadi manusia pemaaf dan
penutup aib orang lain. Untuk meneladani kata ‘afwu, maka kita harus menjadi
seorang pemaaf dan berusaha menutup aib orang lain. Menjadi pemaaf dan menutup
aib orang lain sekarang ini penting.[1]
Aktifitas sehari-hari dalam dunia nyata maupun dunia maya terjadang membuat
kesalahan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Oleh karenanya sikap pemaaf dan
menutup aib orang lain harus dibiasakan dalam kehidupan-sehari hari. Allah Swt.
berfirman:
إِن تُبۡدُواْ خَيۡرًا أَوۡ تُخۡفُوهُ أَوۡ
تَعۡفُواْ عَن سُوٓءٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوّٗا قَدِيرًا ١٤٩
Artinya : “Jika
kamu menyatakan kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan suatu kesalahan
(orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf, Mahakuasa” (QS. an-Nisā [4]:
149)
Rasulullah
Saw. bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا
سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya : “Barangsiapa menutup aib
seseorang muslim, Allah akan menutub (aibnya) pada hari Kiamat” (HR. Ahmad)
B. Maha
Pemberi Rezeki (Ar-Razzāq)
1.
Pengertian Ar-Razzāq
Nama ar-Razzāq merupakan nama ke-18 dari
99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata Ar-Razzāq terambil dari akar kata ra`, za`, dan qaf,
berarti rezeki atau penghidupan. Dalam KBBI, rezeki berarti sesuatu yang
dipakai untuk memelihara kehidupan, dapat berupa makanan, nafkah, dan hal-hal
lain. Imam Ghazali menjelaskan kata ar-Razzāq adalah Dia yang menciptakan
rezeki dan menciptakan yang memberi rezeki, serta Dia pula yang mengantarnya
kepada mereka dan menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya.
Dalam al-Qur`an, ayat-ayat yang menggunakan akar kata razaqa banyak ditemukan.
Akan tetapi ayat yang mengandung kata ar-Razzāq hanya ditemukan pada Surah
ad-Dzāriyāt [51]: 58:
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو
ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ٥٨
Artinya: “Sesungguhnya Allah adalah
Ar-Razzāq (Maha Pemberi Rezeki) yang memiliki kekuatan yang kukuh”. (QS.
ad-Dzāriyāt [51]: 58)
2. Teladan dari sifat Ar-Razzāq
a.
Meyakini bahwa Allah menjamin rezeki
setiap makhluk-Nya serta berusaha mendapatkan rezeki Sebagai makhluk Allah,
kita harus meyakini bahwa Dia telah menjamin rezeki makhluk-makhluknya. Tidak
ada makhluk-Nya yang dibiarkan terlunta-lunta kecuali karena perbuatan pengerusakan
dari makhluk-Nya sendiri. Allah Swt. berfirman:
۞وَمَا مِن
دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ
مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٦
Artinya: “Dan tidak satupun makhluk
bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia
mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam
Kitab yang nyata (Lauḥ al-Maḥfuẓ). (QS. Hūd [11]: 6)
Dengan jaminan rezeki yang Allah berikan
ini, kita harus senantiasa berdoa kepada-Nya untuk diberikan petunjuk atas
letak rezeki-Nya dan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan rezeki yang telah
dijamin oleh Allah.
Allah menjamin rezeki makhluknya dengan
menjadikan bumi ini sebagai bahagian dari rezeki-Nya. Allah menjadikan bumi ini
kaya akan sumber daya alam yang dapat dikelola oleh manusia. Oleh karena itu,
kita harus jeli melihat peluang rezeki dalam bumi yang kaya ini.
Agar jeli melihat peluang ini, kita harus melewati
tiga syarat yaitu:
1)
Berusaha dengan maksimal dengan cara yang
baik;
2)
Yakin bahwa keberhasilan akan diraih
dengan usaha maksimal;
3)
Memasrahkan diri atas hasil apapun yang
telah didapatkan.
b.
Saling berbagi rezeki kepada makhluk
lain
Sebahagian dari cerminan nilai Ar-Razzāq
dalam kehidupan di dunia ialah dengan senang hati membagikan rezeki dari Allah
kepada setiap makhluk-Nya. Sikap membagikan rezeki kepada setiap makhluk Allah
merupakan wujud dari perantara sampainya rezeki Allah.
Sikap membagikan rezeki merupakan
perintah dari Allah Swt. Jika sikap ini diaktualisasikan, maka silaturahmi
dengan sesama akan semakin erat dengan sendirinya. Sebaliknya jika sikap ini
ditinggalkan, maka sifat individual akan semakin marak dan sifat peduli
terhadap orang lain akan menurun.
Dalam membagikan rezeki, kita tak
diperkenankan untuk menyertainya dengan perbuatan maupun perkataan yang
menyakiti hati. Perbuatan dan perkataan yang menyakiti hati akan melemahkan
silaturahmi. Lebih baik berbuat dan berkata baik daripada membagikan rezeki
dengan perbuatan dan perkataan yang buruk.
C. Maha
Penguasa(المالكAl-Malik)
1.
Pengertian Al-Malik
Nama al-Malik merupakan nama ke-18 dari
99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata alMalik secara umum diartikan raja atau penguasa. Kata
al-Malik terdiri dari huruf mim, lam, dan kaf yang rangkaiannya mengandung arti
kekuatan dan kesahihan. Imam al-Ghazali menjelaskan arti al-Malik ialah Dia
yang tidak butuh pada sesuatu dan Dia adalah yang dibutuhkan. Dia adalah
Penguasa dan Pemilik secara mutlak segala hal yang ada. Hasilnya, al-Malik
memiliki kuasa atas pengendalian dan pemeliharaan kekuasaan-Nya. Dalam al-Qur
an, kata al-Malik terulang sebanyak lima kali. Dan dua diantaranya dirangkaikan
dengan kata ḥaq dalam arti pasti dan sempurna yakni pada Surah
Thāhā [20]: 114 dan Surah al-Mu`minūn [23]: 116. Allah berfirman:
وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ
ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ ١١٦
Artinya: “Maka Maha Tinggi Allah raja yang
sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum
disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan Katakanlah: "Ya Tuhanku,
tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thāhā [20]: 114)
فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ
إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ
١١٦
Artinya:“Maka Maha Tinggi Allah, raja
yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang
mulia.” (QS. al-Mu`minūn [23]: 116)
2. Teladan dari nama baik Al-Malik
a.
Meyakini bahwa Allah Maha Menguasai segala
kekuasaan Sebagai umat yang beriman, kita harus meyakini bahwa hanya Allah yang
memiliki kuasa secara mutlak atas kuasa-Nya. Tidak ada kekuasaan yang mutlak
dari makhluknya meskipun itu raja atau pun presiden. Keduanya hanya diberikan
tugas untuk mengatur dan mengelola kekuasaan Allah secara temporer.[2]
Kekuasaan Allah tidak terbatas adanya.
Salah satu dari kekuasaan-Nya ialah bumi dan langit dengan segala hal yang
menyertainya serta segala sesuatu yang kasat mata ataupun gaib.
b.
Meminta izin kepada pemilik barang dan
bertanggung jawab Keyakinan bahwa hanya Allah merupakan Pemilik dan Penguasa
segala sesuatu membuat kita sebagai hambanya harus memikirkan tindakan yang
akan dilakukan. Kita hidup di Bumi milik-Nya. Itulah alasan kita untuk tak
patut sewenang-wenang terhadap bumi-Nya. Kita harus meminta izin kepada-Nya
dalam segala tindakan kita. Selain meminta izin kepada Allah, manusia diminta
bertanggung jawab atas segala hal yang mereka lakukan lebih-lebih kepada orang
yang dianugerahi kerajaan-Nya (dunia). Raja (penerima amanat) di dunia pun
dituntut untuk mengatur dan mengendalikan kehidupan di dunia dengan
sebaik-baiknya. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa raja yang hakiki yaitu,
1)
Kerajaannya berupa kalbu dan wadah
kalbunya,
2)
Bala tentaranya ialah syahwat, amarah,
dan nafsunya,
3)
Rakyatnya adalah lidah, mata, tangan, dan
seluruh anggota badannya.
D. Maha Mencukupi dan Maha
Pembuat Perhitungan ( الحاسب, Al-Ḥasīb)
1. Pengertian
Al-Ḥasīb
Nama al-Ḥasīb merupakan nama ke-41 dari
99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata alḤasīb berakar kata dari huruf ḥa`, sin, dan
ba` mempunyai arti menghitung dan mencukupkan. Imam al-Ghazali menjelaskan
bahwa al-Ḥasīb merupakan Dia yang mencukupi siapa yang mengandalkannya. Sifat
ini tidak disandang kecuali Allah sendiri, karena Allah saja lah yang dapat
mencukupi dan diandalkan oleh semua makhluk. Dalam al-Qur`an kata al-Ḥasīb
dapat ditemukan pada empat ayat dengan rincian tiga ayat merujuk pada Allah,
sedang satu ayat merujuk kepada manusia. Tiga ayat yang merujuk kepada Allah dapat
ditemukan pada Surah an-Nisā` [4]: 6
وَٱبۡتَلُواْ
ٱلۡيَتَٰمَىٰ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغُواْ ٱلنِّكَاحَ فَإِنۡ ءَانَسۡتُم مِّنۡهُمۡ
رُشۡدٗا فَٱدۡفَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ أَمۡوَٰلَهُمۡۖ وَلَا تَأۡكُلُوهَآ إِسۡرَافٗا
وَبِدَارًا أَن يَكۡبَرُواْۚ وَمَن كَانَ غَنِيّٗا فَلۡيَسۡتَعۡفِفۡۖ وَمَن كَانَ
فَقِيرٗا فَلۡيَأۡكُلۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِذَا دَفَعۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ
أَمۡوَٰلَهُمۡ فَأَشۡهِدُواْ عَلَيۡهِمۡۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ حَسِيبٗا ٦
Artinya : “dan ujilah anak yatim itu
sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut pendapatmu mereka
telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka
harta-hartanya. dan janganlah kamu Makan harta anak yatim lebih dari batas
kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka
dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia
menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan Barangsiapa yang miskin,
Maka bolehlah ia Makan harta itu menurut yang patut. kemudian apabila kamu
menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi
(tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas
persaksian itu).” (QS. an-Nisā` [4]: 6).
2. Teladan dari nama baik Al-Ḥasīb
a.
Meyakini bahwa hanya Allah yang memberi kecukupan
dan membuat perhitungan Sebagai umat Islam, kita diharuskan untuk mempercayai
bahwa Allah Maha Mencukupi setiap makhluk-Nya. Karena setiap makhluk-Nya butuh
kepada Allah secara sadar maupun tidak sadar, maka mereka pun merasa
tercukupkan dengan adanya Allah semata.
b. Mengevaluasi diri secara konsisten Seorang yang mengimani al-Ḥasīb akan menjadikan Allah sebagai satusatunya tujuan. Jikalau hal ini berat dilakukan, maka paling tidak seseorang tersebut dapat merasa berkecukupan dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya. Untuk menjadikan Allah sebagai tujuan hidup, maka kita dapat melewati beberapa syarat yaitu,
1)
Mengevaluasi diri secara konsisten,
2)
Mencari hakikat manusia dalam kehidupan.
E. Maha
Pemberi Petunjuk ( الهادى, Al-Hādi)
1. Pengertian
Al-Hādi
Nama al-Hādi merupakan nama ke-94
dari 99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata alHādi berakar kata dari huruf ha`, dal, dan
ya` berarti tampil ke depan untuk memberi petunjuk dan menyampaikan dengan
lemah lembut. Imam al-Ghazali menjelaskan makna al-Hādi berarti Dia yang Maha
memberikan petunjuk kepada makhluk-Nya untuk mengenal diri-Nya. Kata al-Hādi
tidak pernah disebutkan sama sekali dalam al-Qur`an. Akan tetapi dengan padanan
kata hādi dan hād (tanpa alif dan lam), kata tersebut dapat ditemukan dalam
al-Qur`an. Kata tersebut ditemukan sebanyak sepuluh kali dalam alQur`an.
Seperti firman Allah Swt:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا مِّنَ
ٱلۡمُجۡرِمِينَۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيٗا وَنَصِيرٗا ٣١
“Dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk
dan penolong.” (QS. al-Furqān [25]: 31)
2. Teladan dari nama baik Al-Hādi
a.
Meyakini bahwa petunjuk Allah adalah
petunjuk paling sempurna Sebagai umat Islam, kita harus mempercayai bahwa Allah
merupakan Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk. Dan petunjuk Allah merupakan
Petunjuk yang paling sempurna. Makna petunjuk Allah sempurna berarti Allah
memberikan petunjuk secara dinamis dan bertingkat-tingkat sesuai dengan manusia
sendiri. Ada empat tingkatan yang diberikan Allah kepada manusia yaitu,
1)
Potensi naluriah, contohnya tangisan bayi
menunjukkan kebutuhan bayi akan ASI,
2) Panca Indera, contohnya melihat indahnya
handphone terbaru di media sosial meskipun pada realitanya handphone tersebut
ada banyak cacatnya,
3) Akal, contohnya setelah melihat wujud nyata
handphone terbaru, seorang pembeli melakukan pengecekan baik spesifikasi maupun
kualitas dari handphone tersebut,
4) Agama, contohnya setelah memberikan
penganalisaan handphone dengan akal, seorang pembeli memberikan analisis secara
keagamaan seperti apakah membeli handphone ini baik untuk dirinya padahal ia
masih memiliki handphone lama?[3]
b.
Membagikan petunjuk kepada orang lain
dengan sungguh-sungguh dan tanpa pamrih Keempat tingkatan petunjuk Allah
menunjukkan betapa luas petunjuk Allah atas makhluk-Nya. Sedangkan manusia
merupakan makhluk yang penuh keterbatasan. Banyak manusia yang masih mendapati
dan memahami petunjuk naluri atau pun panca indera namun belum mendapati
petunjuk akal dan agama. Apapun alasannya, manusia memiliki tingkatan pemahaman
dan kepekaan yang berbeda. Oleh karenanya, seseorang yang masih dalam tingkatan
naluri dan panca indera dianjurkan memiliki sikap berani bertanya kepada
seseorang yang lebih mengetahuinya. Dan sebaliknya seseorang yang lebih
mengetahui dianjurkan untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat sekitarnya.
F. Maha
Pencipta ( الخالقAl-Khāliq)
1.
Pengertian Al-Khāliq
Nama al-Khāliq merupakan nama ke-12 dari
99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata alKhāliq berakar kata dari huruf kha’, lam, dan qaf
berarti mengukur dan menghapus. Makna ini lalu mengalami perluasan antara lain
dengan arti menciptakan dari tiada dan menciptakan tanpa suatu contoh terlebih
dahulu. Nama al-Khāliq memiliki makna bahwa Allah segala sesuatu.
2. Teladan
dari nama baik Al-Khāliq
a.
Meyakini bahwa Allah menciptakan sesuatu
dengan sebaik-baiknya Sebagai umat Islam, kita harus meyakini bahwa Allah
menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Tidak ada ciptaan Allah yang
tidak sempurna kecuali makhluk-Nya menganggap dirinya tidak sempurna. Anggapan
tentang ketidaksempurnaan ciptaan Allah merupakan suatu wujud ketidaksyukuran
terhadap ciptaan Allah. Kita sebagai ciptaan Allah harus mensyukuri segala hal
yang Allah tetapkan kepada kita dan kita harus yakin bahwa pasti ada hikmah
dari ciptaan Allah tersebut.
b.
Motivasi berkreasi dan inovasi Setelah
kita meyakini bahwa Allah menciptakan sesuatu dengan sebaikbaiknya, maka
perilaku yang dapat menunjukkan cerminan terhadap al-Khāliq ialah kreatif dan
inovatif. Kreatif berarti memiliki daya cipta atau kemampuan untuk menciptakan.
setiap orang mampu menciptakan sesuatu yang berada dalam dirinya. Contohnya
mobil esemka yang dibuat oleh anak-anak Indonesia. Dan inovatif berarti
memperkenalkan sesuatu yang bersifat pembaharuan atau kreasi baru. Inovasi di
sini menunjukkan bahwa adanya upgrade pada bagian-bagian kreasi sebelumnya
menjadi kreasi baru. Contohnya lampu-lampu jalan yang dulunya dialiri listrik
dari PLN, sekarang banyak dialiri oleh energi surya. Jadi, dengan
mendalami nama al-Khāliq, kita seyogyanya lebih mengeksplorasi dunia sehingga
muncul ide-ide dan aksi kreatif juga inovatif.
G. Maha
Bijaksana (Al-Ḥakīm)
1. Pengertian Al-Ḥakīm
Nama al-Ḥakīm merupakan nama ke-47 dari
99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata alḤakīm berakar dari huruf ḥa`, kaf, dan mīm
berarti bijaksana. Nama al-Ḥakīm menunjukkan bahwa Allah Mahabijaksana atas
segala sesuatu. Dengan kebijaksanaan-Nya, Allah memberikan manfaat dan
kemudahan makhluk-Nya atau menghalangi dan menghindarkan terjadinya kesulitan
bagi makhluk-Nya.[4]
Tidak ada keraguan dan kebimbangan dalam segala perintah dan larangan-Nya, dan
tak satu pun makhluk yang dapat menghalangi terlaksananya kebijaksanaan atau
hikmah-Nya Imam al-Ghazali menjelaskan kata al-Ḥakīm dalam arti pengetahuan
akan sesuatu yang paling utama. Karena Dia mengetahui ilmu yang abadi dan hanya
Dia yang mengetahui wujud yang mulia.
2. Teladan
dari nama baik Al-Ḥākim
a.
Meyakini bahwa Allah Maha Bijaksana atas
segala sesuatu Sebagai umat Islam, kita wajib menerima segala hal yang telah
diberikan Allah kepada kita. Bahkan kita harus berpikir positif dalam memahami
kebijaksanaannya.
b.
Bersifat bijaksana Sifat bijaksana
merupakan selalu menggunakan pengetahuan dan pengalaman serta pandai
berhati-hati apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya. Sifat ini tidak bisa
timbul jika seseorang tidak memiliki keluasan dan kedalaman berpikir. Oleh
karenanya untuk menunjukkan cerminan pada kata alḤakīm, kita harus profesional
pada cabang ilmu pengetahuan tertentu lalu mengintegrasikan cabang ilmu satu
dengan yang lain. Untuk bersikap profesional, kita memerlukan motivasi-motivasi
yang dapat menunjang tingkat keprofesionalan seseorang. Adapun motivasinya
antara lain,
1)
Bersungguh-sungguh dan teliti dalam
mengerjakan sesuatu
2)
Pantang menyerah atas hasil yang
buruk
3)
Mengejar hasil yang lebih baik
[1] Dra. Nurul
Hidayah, Buku Akidah Akhlak /Kementerian Agama,- Jakarta :Kementerian Agama
2019.h.45-46
[2] Kamil, Ikhsanun
Pratama. 2012. Medical Asmaul Husna. Solo: PT. Tiga Serangkai.h.125
[3] Rahman, A. Roli.
1998. Aqidah-Akhlak X. Sragen: Akik Pusaka.h.77
[4] Asih, Sapinah
Kurnia. 2010. Penuntun Belajar Aqidah Akhlak untuk Madrasah Aliyah. Depok: Arya
Duta