Cerminan dan Nilai Mulia Asmaul Husna

ADMIN
Estimated read time: 11 min

 


CERMINAN DAN NILAI ASMAUL HUSNA


A.    Maha Pemaaf (العفو, al-"Afwwu)

1.      Pengertian

Nama al-‘Afuww merupakan nama ke-83 dari 99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata al- ‘Afuww, terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf ‘ain, fa`, dan wauw. Maknanya yaitu meninggalkan sesuatu dan memintanya. Dari sini lahir kata ‘afwu yang berarti meninggalkan sanksi terhadap yang bersalah (memaafkan). Dalam beberapa kamus kata ‘afwu berarti menghapus, membinasakan dan mencabut akar sesuatu. Kata al-‘Afuww berarti Allah Maha memafkan kesalahan hambanya. Pemaafan Allah tidak hanya tertuju pada mereka yang bersalah secara tidak sengaja atau melakukan kesalahan yang tidak diketahui, melainkan pemaafan secara universal diberikan kepada semua hamba-Nya bahkan sebelum mereka meminta maaf. Allah Swt. berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَلَّوۡاْ مِنكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِ إِنَّمَا ٱسۡتَزَلَّهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِبَعۡضِ مَا كَسَبُواْۖ وَلَقَدۡ عَفَا ٱللَّهُ عَنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٞ  ١٥٥

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu, sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat (pada masa lampau), tetapi Allah benar-benar telah memaafkan mereka. Sungguh, Allah maha Pengampun, Maha Penyantun” (QS. Ali ‘Imrān [3]: 155) 

Dalam al-Qur`an kata ‘afwu ditemukan ada 35 kali dengan berbagai bentuk dan makna. Dan kata ‘afwu ditemukan tiga kali yang merujuk kepada Allah. 

2.      Teladan dari nama baik Al-‘Afuww 

a.       Meyakini bahwa Allah memaafkan kesalahan hambanya Sebagai umat Islam, kita harus meyakini bahwa kesalahan-kesalahan kita akan dimaafkan oleh Allah Swt. Tidak ada kesalahan yang tidak dimaafkan oleh Allah selama kita mau bertaubat. Allah Swt. Berfirman :

 وَنَضَعُ ٱلۡمَوَٰزِينَ ٱلۡقِسۡطَ لِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡٔٗاۖ وَإِن كَانَ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٍ أَتَيۡنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ  ٤٧

Artinya : “Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti  Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan” (QS. al-Anbiyā` [21]: 47)

Oleh karenanya, seyogyanya kita memahami bahwa kesalahan yang pernah dilakukan pasti telah dimaafkan oleh Allah apalagi jika disertai dengan pertaubatan atas kesalahan yang pernah dilakukan. Melakukan taubat adalah menyadari kesalahan hamba, meminta ampun atas kesalahan tersebut, dan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan serupa kembali.

b.      Perintah untuk menjadi manusia pemaaf dan penutup aib orang lain. Untuk meneladani kata ‘afwu, maka kita harus menjadi seorang pemaaf dan berusaha menutup aib orang lain. Menjadi pemaaf dan menutup aib orang lain sekarang ini penting.[1] Aktifitas sehari-hari dalam dunia nyata maupun dunia maya terjadang membuat kesalahan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Oleh karenanya sikap pemaaf dan menutup aib orang lain harus dibiasakan dalam kehidupan-sehari hari. Allah Swt. berfirman:

إِن تُبۡدُواْ خَيۡرًا أَوۡ تُخۡفُوهُ أَوۡ تَعۡفُواْ عَن سُوٓءٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوّٗا قَدِيرًا  ١٤٩

 Artinya : “Jika kamu menyatakan kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf, Mahakuasa” (QS. an-Nisā [4]: 149) 

Rasulullah Saw. bersabda: 

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya : “Barangsiapa menutup aib seseorang muslim, Allah akan menutub (aibnya) pada hari Kiamat” (HR. Ahmad)

 

B.     Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzāq) 

1. Pengertian Ar-Razzāq 

Nama ar-Razzāq merupakan nama ke-18 dari 99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata Ar-Razzāq terambil dari akar kata ra`, za`, dan qaf, berarti rezeki atau penghidupan. Dalam KBBI, rezeki berarti sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan, dapat berupa makanan, nafkah, dan hal-hal lain. Imam Ghazali menjelaskan kata ar-Razzāq adalah Dia yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang memberi rezeki, serta Dia pula yang mengantarnya kepada mereka dan menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya. Dalam al-Qur`an, ayat-ayat yang menggunakan akar kata razaqa banyak ditemukan. Akan tetapi ayat yang mengandung kata ar-Razzāq hanya ditemukan pada Surah ad-Dzāriyāt [51]: 58:

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ  ٥٨

Artinya: “Sesungguhnya Allah adalah Ar-Razzāq (Maha Pemberi Rezeki) yang memiliki kekuatan yang kukuh”. (QS. ad-Dzāriyāt [51]: 58) 

2. Teladan dari sifat Ar-Razzāq 

a.       Meyakini bahwa Allah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya serta berusaha mendapatkan rezeki Sebagai makhluk Allah, kita harus meyakini bahwa Dia telah menjamin rezeki makhluk-makhluknya. Tidak ada makhluk-Nya yang dibiarkan terlunta-lunta kecuali karena perbuatan pengerusakan dari makhluk-Nya sendiri. Allah Swt. berfirman:

۞وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ  ٦

Artinya: “Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauḥ al-Maḥfuẓ). (QS. Hūd [11]: 6) 

Dengan jaminan rezeki yang Allah berikan ini, kita harus senantiasa berdoa kepada-Nya untuk diberikan petunjuk atas letak rezeki-Nya dan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan rezeki yang telah dijamin oleh Allah.

Allah menjamin rezeki makhluknya dengan menjadikan bumi ini sebagai bahagian dari rezeki-Nya. Allah menjadikan bumi ini kaya akan sumber daya alam yang dapat dikelola oleh manusia. Oleh karena itu, kita harus jeli melihat peluang rezeki dalam bumi yang kaya ini. 

Agar jeli melihat peluang ini, kita harus melewati tiga syarat yaitu: 

1)      Berusaha dengan maksimal dengan cara yang baik; 

2)      Yakin bahwa keberhasilan akan diraih dengan usaha maksimal; 

3)      Memasrahkan diri atas hasil apapun yang telah didapatkan. 

b.      Saling berbagi rezeki kepada makhluk lain 

Sebahagian dari cerminan nilai Ar-Razzāq dalam kehidupan di dunia ialah dengan senang hati membagikan rezeki dari Allah kepada setiap makhluk-Nya. Sikap membagikan rezeki kepada setiap makhluk Allah merupakan wujud dari perantara sampainya rezeki Allah.

Sikap membagikan rezeki merupakan perintah dari Allah Swt. Jika sikap ini diaktualisasikan, maka silaturahmi dengan sesama akan semakin erat dengan sendirinya. Sebaliknya jika sikap ini ditinggalkan, maka sifat individual akan semakin marak dan sifat peduli terhadap orang lain akan menurun.

Dalam membagikan rezeki, kita tak diperkenankan untuk menyertainya dengan perbuatan maupun perkataan yang menyakiti hati. Perbuatan dan perkataan yang menyakiti hati akan melemahkan silaturahmi. Lebih baik berbuat dan berkata baik daripada membagikan rezeki dengan perbuatan dan perkataan yang buruk.

C. Maha Penguasa(المالكAl-Malik) 

1. Pengertian Al-Malik

Nama al-Malik merupakan nama ke-18 dari 99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata alMalik secara umum diartikan raja atau penguasa. Kata al-Malik terdiri dari huruf mim, lam, dan kaf yang rangkaiannya mengandung arti kekuatan dan kesahihan. Imam al-Ghazali menjelaskan arti al-Malik ialah Dia yang tidak butuh pada sesuatu dan Dia adalah yang dibutuhkan. Dia adalah Penguasa dan Pemilik secara mutlak segala hal yang ada. Hasilnya, al-Malik memiliki kuasa atas pengendalian dan pemeliharaan kekuasaan-Nya. Dalam al-Qur an, kata al-Malik terulang sebanyak lima kali. Dan dua diantaranya dirangkaikan dengan kata ḥaq dalam arti pasti dan sempurna yakni pada Surah Thāhā [20]: 114 dan Surah al-Mu`minūn [23]: 116. Allah berfirman: 

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ  ١١٦

Artinya:  “Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thāhā [20]: 114)

 فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ  ١١٦

Artinya:“Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” (QS. al-Mu`minūn [23]: 116) 

2. Teladan dari nama baik Al-Malik 

a.       Meyakini bahwa Allah Maha Menguasai segala kekuasaan Sebagai umat yang beriman, kita harus meyakini bahwa hanya Allah yang memiliki kuasa secara mutlak atas kuasa-Nya. Tidak ada kekuasaan yang mutlak dari makhluknya meskipun itu raja atau pun presiden. Keduanya hanya diberikan tugas untuk mengatur dan mengelola kekuasaan Allah secara temporer.[2] 

Kekuasaan Allah tidak terbatas adanya. Salah satu dari kekuasaan-Nya ialah bumi dan langit dengan segala hal yang menyertainya serta segala sesuatu yang kasat mata ataupun gaib.

b.        Meminta izin kepada pemilik barang dan bertanggung jawab Keyakinan bahwa hanya Allah merupakan Pemilik dan Penguasa segala sesuatu membuat kita sebagai hambanya harus memikirkan tindakan yang akan dilakukan. Kita hidup di Bumi milik-Nya. Itulah alasan kita untuk tak patut sewenang-wenang terhadap bumi-Nya. Kita harus meminta izin kepada-Nya dalam segala tindakan kita. Selain meminta izin kepada Allah, manusia diminta bertanggung jawab atas segala hal yang mereka lakukan lebih-lebih kepada orang yang dianugerahi kerajaan-Nya (dunia). Raja (penerima amanat) di dunia pun dituntut untuk mengatur dan mengendalikan kehidupan di dunia dengan sebaik-baiknya. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa raja yang hakiki yaitu,

1)      Kerajaannya berupa kalbu dan wadah kalbunya, 

2)      Bala tentaranya ialah syahwat, amarah, dan nafsunya, 

3)      Rakyatnya adalah lidah, mata, tangan, dan seluruh anggota badannya.

D. Maha Mencukupi dan Maha Pembuat Perhitungan ( الحاسبAl-Ḥasīb)

1.    Pengertian Al-Ḥasīb

Nama al-Ḥasīb merupakan nama ke-41 dari 99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata alḤasīb berakar kata dari huruf ḥa`, sin, dan ba` mempunyai arti menghitung dan mencukupkan. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa al-Ḥasīb merupakan Dia yang mencukupi siapa yang mengandalkannya. Sifat ini tidak disandang kecuali Allah sendiri, karena Allah saja lah yang dapat mencukupi dan diandalkan oleh semua makhluk. Dalam al-Qur`an kata al-Ḥasīb dapat ditemukan pada empat ayat dengan rincian tiga ayat merujuk pada Allah, sedang satu ayat merujuk kepada manusia. Tiga ayat yang merujuk kepada Allah dapat ditemukan pada Surah an-Nisā` [4]: 6

وَٱبۡتَلُواْ ٱلۡيَتَٰمَىٰ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغُواْ ٱلنِّكَاحَ فَإِنۡ ءَانَسۡتُم مِّنۡهُمۡ رُشۡدٗا فَٱدۡفَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ أَمۡوَٰلَهُمۡۖ وَلَا تَأۡكُلُوهَآ إِسۡرَافٗا وَبِدَارًا أَن يَكۡبَرُواْۚ وَمَن كَانَ غَنِيّٗا فَلۡيَسۡتَعۡفِفۡۖ وَمَن كَانَ فَقِيرٗا فَلۡيَأۡكُلۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِذَا دَفَعۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ أَمۡوَٰلَهُمۡ فَأَشۡهِدُواْ عَلَيۡهِمۡۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ حَسِيبٗا  ٦

Artinya : “dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu Makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan Barangsiapa yang miskin, Maka bolehlah ia Makan harta itu menurut yang patut. kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).” (QS. an-Nisā` [4]: 6).  

2. Teladan dari nama baik Al-Ḥasīb

a.       Meyakini bahwa hanya Allah yang memberi kecukupan dan membuat perhitungan Sebagai umat Islam, kita diharuskan untuk mempercayai bahwa Allah Maha Mencukupi setiap makhluk-Nya. Karena setiap makhluk-Nya butuh kepada Allah secara sadar maupun tidak sadar, maka mereka pun merasa tercukupkan dengan adanya Allah semata. 

b.   Mengevaluasi diri secara konsisten Seorang yang mengimani al-Ḥasīb akan menjadikan Allah sebagai satusatunya tujuan. Jikalau hal ini berat dilakukan, maka paling tidak seseorang tersebut dapat merasa berkecukupan dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya. Untuk menjadikan Allah sebagai tujuan hidup, maka kita dapat melewati beberapa syarat yaitu, 

1)      Mengevaluasi diri secara konsisten, 

2)      Mencari hakikat manusia dalam kehidupan.

E. Maha Pemberi Petunjuk ( الهادى, Al-Hādi)

1. Pengertian Al-Hādi

 Nama al-Hādi merupakan nama ke-94 dari 99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata alHādi berakar kata dari huruf ha`, dal, dan ya` berarti tampil ke depan untuk memberi petunjuk dan menyampaikan dengan lemah lembut. Imam al-Ghazali menjelaskan makna al-Hādi berarti Dia yang Maha memberikan petunjuk kepada makhluk-Nya untuk mengenal diri-Nya. Kata al-Hādi tidak pernah disebutkan sama sekali dalam al-Qur`an. Akan tetapi dengan padanan kata hādi dan hād (tanpa alif dan lam), kata tersebut dapat ditemukan dalam al-Qur`an. Kata tersebut ditemukan sebanyak sepuluh kali dalam alQur`an. Seperti firman Allah Swt:

 وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا مِّنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيٗا وَنَصِيرٗا  ٣١

“Dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” (QS. al-Furqān [25]: 31) 

2. Teladan dari nama baik Al-Hādi

a.       Meyakini bahwa petunjuk Allah adalah petunjuk paling sempurna Sebagai umat Islam, kita harus mempercayai bahwa Allah merupakan Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk. Dan petunjuk Allah merupakan Petunjuk yang paling sempurna. Makna petunjuk Allah sempurna berarti Allah memberikan petunjuk secara dinamis dan bertingkat-tingkat sesuai dengan manusia sendiri. Ada empat tingkatan yang diberikan Allah kepada manusia yaitu, 

1)      Potensi naluriah, contohnya tangisan bayi menunjukkan kebutuhan bayi akan ASI, 

2)  Panca Indera, contohnya melihat indahnya handphone terbaru di media sosial meskipun pada realitanya handphone tersebut ada banyak cacatnya, 

3) Akal, contohnya setelah melihat wujud nyata handphone terbaru, seorang pembeli melakukan pengecekan baik spesifikasi maupun kualitas dari handphone tersebut, 

4) Agama, contohnya setelah memberikan penganalisaan handphone dengan akal, seorang pembeli memberikan analisis secara keagamaan seperti apakah membeli handphone ini baik untuk dirinya padahal ia masih memiliki handphone lama?[3] 

b.      Membagikan petunjuk kepada orang lain dengan sungguh-sungguh dan tanpa pamrih Keempat tingkatan petunjuk Allah menunjukkan betapa luas petunjuk Allah atas makhluk-Nya. Sedangkan manusia merupakan makhluk yang penuh keterbatasan. Banyak manusia yang masih mendapati dan memahami petunjuk naluri atau pun panca indera namun belum mendapati petunjuk akal dan agama. Apapun alasannya, manusia memiliki tingkatan pemahaman dan kepekaan yang berbeda. Oleh karenanya, seseorang yang masih dalam tingkatan naluri dan panca indera dianjurkan memiliki sikap berani bertanya kepada seseorang yang lebih mengetahuinya. Dan sebaliknya seseorang yang lebih mengetahui dianjurkan untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat sekitarnya. 

F. Maha Pencipta ( الخالقAl-Khāliq)

1.        Pengertian Al-Khāliq

Nama al-Khāliq merupakan nama ke-12 dari 99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata alKhāliq berakar kata dari huruf kha’, lam, dan qaf berarti mengukur dan menghapus. Makna ini lalu mengalami perluasan antara lain dengan arti menciptakan dari tiada dan menciptakan tanpa suatu contoh terlebih dahulu. Nama al-Khāliq memiliki makna bahwa Allah segala sesuatu.

2. Teladan dari nama baik Al-Khāliq

a.       Meyakini bahwa Allah menciptakan sesuatu dengan sebaik-baiknya Sebagai umat Islam, kita harus meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Tidak ada ciptaan Allah yang tidak sempurna kecuali makhluk-Nya menganggap dirinya tidak sempurna. Anggapan tentang ketidaksempurnaan ciptaan Allah merupakan suatu wujud ketidaksyukuran terhadap ciptaan Allah. Kita sebagai ciptaan Allah harus mensyukuri segala hal yang Allah tetapkan kepada kita dan kita harus yakin bahwa pasti ada hikmah dari ciptaan Allah tersebut.

b.      Motivasi berkreasi dan inovasi Setelah kita meyakini bahwa Allah menciptakan sesuatu dengan sebaikbaiknya, maka perilaku yang dapat menunjukkan cerminan terhadap al-Khāliq ialah kreatif dan inovatif. Kreatif berarti memiliki daya cipta atau kemampuan untuk menciptakan. setiap orang mampu menciptakan sesuatu yang berada dalam dirinya. Contohnya mobil esemka yang dibuat oleh anak-anak Indonesia. Dan inovatif berarti memperkenalkan sesuatu yang bersifat pembaharuan atau kreasi baru. Inovasi di sini menunjukkan bahwa adanya upgrade pada bagian-bagian kreasi sebelumnya menjadi kreasi baru. Contohnya lampu-lampu jalan yang dulunya dialiri listrik dari PLN, sekarang banyak dialiri oleh energi surya.  Jadi, dengan mendalami nama al-Khāliq, kita seyogyanya lebih mengeksplorasi dunia sehingga muncul ide-ide dan aksi kreatif juga inovatif. 

G. Maha Bijaksana (Al-Ḥakīm) 

1.   Pengertian Al-Ḥakīm

Nama al-Ḥakīm merupakan nama ke-47 dari 99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata alḤakīm berakar dari huruf ḥa`, kaf, dan mīm berarti bijaksana. Nama al-Ḥakīm menunjukkan bahwa Allah Mahabijaksana atas segala sesuatu. Dengan kebijaksanaan-Nya, Allah memberikan manfaat dan kemudahan makhluk-Nya atau menghalangi dan menghindarkan terjadinya kesulitan bagi makhluk-Nya.[4] Tidak ada keraguan dan kebimbangan dalam segala perintah dan larangan-Nya, dan tak satu pun makhluk yang dapat menghalangi terlaksananya kebijaksanaan atau hikmah-Nya Imam al-Ghazali menjelaskan kata al-Ḥakīm dalam arti pengetahuan akan sesuatu yang paling utama. Karena Dia mengetahui ilmu yang abadi dan hanya Dia yang mengetahui wujud yang mulia.

 

2. Teladan dari nama baik Al-Ḥākim 

a.       Meyakini bahwa Allah Maha Bijaksana atas segala sesuatu Sebagai umat Islam, kita wajib menerima segala hal yang telah diberikan Allah kepada kita. Bahkan kita harus berpikir positif dalam memahami kebijaksanaannya. 

b.      Bersifat bijaksana Sifat bijaksana merupakan selalu menggunakan pengetahuan dan pengalaman serta pandai berhati-hati apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya. Sifat ini tidak bisa timbul jika seseorang tidak memiliki keluasan dan kedalaman berpikir. Oleh karenanya untuk menunjukkan cerminan pada kata alḤakīm, kita harus profesional pada cabang ilmu pengetahuan tertentu lalu mengintegrasikan cabang ilmu satu dengan yang lain. Untuk bersikap profesional, kita memerlukan motivasi-motivasi yang dapat menunjang tingkat keprofesionalan seseorang. Adapun motivasinya antara lain, 

1)      Bersungguh-sungguh dan teliti dalam mengerjakan sesuatu 

2)      Pantang menyerah atas hasil yang buruk 

3)      Mengejar hasil yang lebih baik 

Selalu mengevaluasi proses dan hasil yang lalu


[1] Dra. Nurul Hidayah, Buku Akidah Akhlak /Kementerian Agama,- Jakarta :Kementerian Agama 2019.h.45-46

[2] Kamil, Ikhsanun Pratama. 2012. Medical Asmaul Husna. Solo: PT. Tiga Serangkai.h.125

[3] Rahman, A. Roli. 1998. Aqidah-Akhlak X. Sragen: Akik Pusaka.h.77

[4] Asih, Sapinah Kurnia. 2010. Penuntun Belajar Aqidah Akhlak untuk Madrasah Aliyah. Depok: Arya Duta


Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.